Pedoman Penulisan Jurnal Forum Arkeologi

PANDUAN PENULISAN FORUM ARKEOLOGI
BALAI ARKEOLOGI DENPASAR

Cakupan isi jurnal Forum Arkeologi
            Jurnal Forum Arkeologi memuat pemikiran ilmiah, hasil penelitian atau tinjauan/ulasan/pemikiran tentang kearkeologian terbit 3 kali dalam setahun setiap bulan, April, agustus, November.

Standar Umum Penulisan Karya Tulis Ilmiah
  1. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris.
  2. Judul, Abstrak, dan Kata Kunci harus ditulis dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris).
  3. Ditulis dengan menggunakan MS Word pada kertas ukuran A4 (210 mm x 297mm), font Times New Roman ukuran 12, spasi 1.15. Batas atas, batas bawah, tepi kiri, dan tepi kanan masing-masing 3 cm. Jumlah minimal 10 halaman, maksimal 20 halaman isi (tidak termasuk lampiran).
  4. Penyebutan istilah di luar bahasa Indonesia atau Inggris harus ditulis dengan huruf cetak miring (italic).


Struktur Karya Tulis Ilmiah
Naskah Karya Tulis Ilmiah (KTI) tersusun meliputi unsur-unsur sebagai berikut.
  1. Judul
  2. Nama dan Alamat Penulis
  3. Abstrak
  4. Kata Kunci
  5. Pendahuluan (antaralain latar belakang, perumusan masalah, tujuan, teori, dan hipotesis [opsional])
  6. Metode Penelitian (berisi waktu dan tempat, bahan/cara pengumpulan data, metode, analisis data)
  7. Hasil dan Pembahasan (termasuk ilustrasi : gambar/tabel/grafik/foto/diagram dll)
  8. Kesimpulan
  9. Saran (opsional)
  10. Daftar Pustaka
  11. Lampiran (opsional)


Cara Penulisan Judul
  1. Judul bahasa Indonesia diketik dengan huruf kapital tebal (bold) dan mencerminkan inti tulisan, diketik rata tengah (centre).
  2. Judul bahasa Inggris ditulis dengan huruf kapital setiap awal kata, di bold, italic, dan di ketik rata tengah (centre).
  3. Apabila judul ditulis dalam Bahasa Indonesia maka di bawahnya ditulis ulang dalam Bahasa Inggris; begitu juga sebaliknya.


Cara Penulisan Nama dan Alamat
  1. Nama penulis diketik di bawah judul, ditulis lengkap tanpa menyebut gelar, diketik rata tengah (centre) dan di bold. Apabila ditulis oleh dua atau tiga orang, maka  dibelakang nama diberi tanda super script.
  2. Alamat penulis (nama dan alamat instansi tempat bekerja) ditulis lengkap dengan jarak satu spasi di bawah nama penulis. Apabila dua atau tiga orang penulis dengan alamat yang sama, cukup ditulis satu alamat saja.
  3. Alamat Pos-el (Pos elektronik) ditulis di bawah alamat penulis.
  4. Jika alamat lebih dari satu maka harus diberi tanda asterisk (*) dan diikuti alamat sekarang.
  5. Jika penulis terdiri dari lebih dari satu orang maka harus ditambahkan kata penghubung ‘dan’ (bukan lambang ‘&’).
  6. Riwayat naskah: diterima, direvisi dan  disetujui, ditulis sejajar.


Cara Penulisan Abstrak dan Kata Kunci
  1. Kata abstrak ditulis rata tengah (centre), italic dan bold.
  2.  Abstrak ditulis dalam satu paragraph, bukan dalam bentuk matematis, pertanyaan, atau dugaan. Ditulis menerus tanpa acuan, kutipan, singkatan, serta bersifat mandiri dengan huruf  italic. Diketik satu spasi font 11 serta ditulis dalam dua bahasa yaitu bahasa Indonesia maksimal 250 kata dan bahasa Inggris maksimal 150 kata.
  3. Abstrak berisi empat aspek yaitu: tujuan penelitian, metode yang digunakan, hasil penelitian, dan kesimpulan penelitian.
  4. Apabila KTI menggunakan bahasa Indonesia, maka abstrak (abstract) dalam Bahasa Inggris didahulukan dan sebaliknya.
  5. Abstrak dalam Bahasa Indonesia diikuti kata kunci dalam Bahasa Indonesia, sedangkan abstract dalam bahasa Inggris diikuti keywords dalam Bahasa Inggris.
  6. Penulisan abstrak  Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris tidak sejajar dengan narasi naskah, dan diketik, italic.
  7. Kata kunci paling sedikit tiga kata dan paling banyak lima kata, ditulis dengan huruf cetak miring (italic).



Cara Penyajian Tabel
  1.  Judul tabel ditampilkan di bagian atas tabel, rata kiri (bukan center), ditulis menggunakan font Times New Roman ukuran 10.
  2. Tulisan ‘Tabel’ dan ‘nomor’ditulis tebal (bold), sedangkan judul tabel ditulis normal. Gunakan angka Arab (1, 2, 3, dst.) untuk penomoran judul tabel.
  3.  Tabel ditampilkan rata kiri halaman (bukan center).
  4. Jenis dan ukuran font untuk isi tabel dapat menggunakan Times New Roman atau Arial Narrow ukuran 8-11 dengan jarak 1,0.
  5. Pencantuman sumber atau keterangan diletakkan di bawah tabel, rata kiri, menggunakan font Times New Roman ukuran 10.


Cara Penyajian Gambar, Grafik, Foto, atau Diagram
  1. Gambar, grafik, foto, atau diagram ditampilkan di tengah halaman (center).
  2. Keterangan gambar, grafik, foto, atau diagram ditulis di bawah ilustrasi, menggunakan font Times New Roman ukuran 10, ditempatkan di tengah (center).
  3. Tulisan ‘Gambar, Grafik, Foto, atau Diagram’ dan ‘nomor’ditulis tebal (bold), sedangkan isi keterangan ditulis normal.
  4. Gunakan angka Arab (1, 2, 3, dst.) untuk penomoran gambar, grafik, foto, atau diagram.
  5. Pencantuman sumber atau keterangan diletakkan di bawah ilustrasi, rata kiri, menggunakan font Times New Roman ukuran 10.


Cara Pengutipan Sumber
  1. Penunjuk sumber dalam naskah supaya dibuat dengan urutan sebagai berikut: nama pengarang, tahun terbit dan halaman sumber, semuanya ditempatkan dalam tanda kurung (Langsing, 1991: 93).


Cara dan Contoh Penulisan Daftar Pustaka
  • Urutan dalam Daftar Pustaka ditulis berdasarkan alfabetis.
  • Daftar pustaka yang diacu paling sedikit 10 acuan, sebaiknya 80 persen acuan primer dan 20 persen acuan sekunder.
  • Ukuran huruf lebih kecil dari isi naskah. Font 11 Time New Roman.


Contoh:
jurnal
Suantika, I Wayan. 2012. Pengelolaan Sumberdaya Arkeologi. Forum Arkeologi. 25 (3): 185-205.

Buku satu penulis
Ambary, Hasan Muarif. 1998. Menemukan Peradaban Arkeologi dan Islam di Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Buku dua hingga empat penulis
Dahler, Franz dan Julius Chandra. 1991. Asal dan Tujuan Manusia. Yogyakarta: Kanisius.

Buku lebih dari empat penulis
Husein, S.B. dkk. 2011. Indonesia Across Orders - Arus Bawah Sejarah Bangsa (1930-1960). Jakarta: LIPI Press.

Buku tanpa nama pengarang, tetapi ditulis atas nama lembaga
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 2011. Pedoman Akreditasi Majalah Ilmiah. Jakarta: LIPI.

Bunga rampai
Geria, Made. 2012. Penguatan Jatidiri dalam Perspektif Aktualisasi Arkeologi. Dalam Made Sutaba (Ed.). Merajut Kearifan Lokal Membangun Karakter Bangsa: 1-20. Denpasar: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Balai Arkeologi Denpasar .

Prosiding
Suarbhawa, I Gusti Made. 1995. Beberapa Aspek Pelestarian Lingkungan pada Jaman Bali Kuno. Dalam Ambary, Hasan Muarif. Dkk (Ed.). Analisis Sumber Tertulis Masa Klasik : 183-196.  Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Media massa (tanpa nama penulis)
Guinness Catat Borobudur sebagai Situs Arkeologis. 2012. Bali Post, 5 Juli 2013: 22.
Media massa (terdapat nama penulis)
Sutaba, I Made. 2013. Satu Abad Purbakala Indonesia. Berburu Warisan Budaya Membangun Masa Depan. 2013. Bali Express, 17 Juni: 4.

Tulisan bersumber dari internet (tanpa nama penulis)
Lingga Yoni di Pura Puseh Babahan, Bali. 2007. (http://linggabinangkit.wordpress.com
/2007/10/03/arti-lingga/, diakses, 13-08-2011).

Tulisan bersumber dari internet (terdapat nama penulis)
Sumartono, 2004. “Penyelidikan Geokimia Regional Sistematik Lembar Denpasar dan      Mataram Provinsi Bali”, (http://psdg.bgl.esdm.go.id/index.          php?
option =com_  content&view=article&id), diakses 5-10-2013).

Makalah dalam pertemuan ilmiah, kongres, simposium, atau seminar yang belum diterbitkan
Suarbhawa, I Gusti Made. 2012. Penelitian Sumberdaya Budaya di Kawasan Danau Batur untuk Mendukung Geopark. Makalah dalam Evaluasi Penelitian Arkeologi. Solo: Pusat Arkeologi Nasional.

Laporan Penelitian
Geria, I Made. 2007. Survei Tinggalan Arkeologi di Bentangan Alam Kawasan Jatiluwih (Culture Lanskape) Penebel, Tabanan, Bali. Laporan Penelitian, Balai Arkeologi. Denpasar: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Skripsi, tesis, dan disertasi
Astra, I Gde Semadi. 1997. Birokrasi Pemerintahan Bali Kuno Abad XII-XIII : Sebuah Kajian Epigrafis. Desertasi , Ilmu Sastra. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.






PENYERAHAN HASIL PENELITIAN PRASASTI SUKAWANA, KINTAMANI, BANGLI

Awal tahun 2014, Balai Arkeologi Denpasar melaksanakan sebuah kegiatan penting yakni penyerahan hasil penelitian Prasasti Sukawana yang bertempat di Pura Bale Agung Desa Sukawana, Kintamani pada hari Sabtu 11 Januari 2014. Hasil penelitian diserahkan secara langsung oleh Kepala Balai Arkeologi Denpasar, Drs. I Made Geria, M.Si, kepada Bupati Bangli, I Made Gianyar dan diteruskan kepada Jero Bendesa Pakraman Sukawana. Penyerahan laporan penelitian tersebut disaksikan pula oleh Dr. I Wayan Koster (anggota DPR RI), Wakil Bupati Bangli, SKPD Kabupaten Bangli, camat, perwakilan Desa Pakraman Kintamani dan Tejakula serta ribuan masyarakat Desa Sukawana.
Pada kesempatan itu nampak antusiasme masyarakat Desa Sukawana terlibat langsung dalam pelestarian warisan budaya mereka demikian pula para Pejabat Daerah. Pemerintah Daerah berjanji akan melakukan sinergi dengan Balai Arkeologi Denpasar dalam kegiatan-kegiatan penelitian selanjutnya.
Ide melakukan penelitian prasasti yang disimpan di Pura Bale Agung Sukawana muncul sekitar Juli 2012 pada saat Balai Arkeologi Denpasar melakukan penelitian sumberdaya arkeologi di kawasan Kintamani sebagai pendukung geopark. Penelitian prasasti dapat dilaksanakan pada tanggal 29-30 Oktober 2012 oleh tim terdiri atas I Gusti Made Suarbhawa, I Nyoman Sunarya, I Wayan Sumerata, Luh Suwita Utami dapat dilaksanakan atas bantuan berbagai pihak seperti Bapak I Made Jasa (mantan Perbekel Sukawana), Mangku Sabaraka, Jro Kabayan, Jro Bahu dan para Dulu serta masyarakat Sukawana.
Prasasti Sukawana terdiri atas 21 lempeng tembaga, yang dipilah menjadi lima kelompok yaitu :
1.     Prasasti no. 001. Sukawana A I, terbit tahun 804 Saka/882 Masehi, tanpa nama raja, merupakan prasasti Bali Kuno yang memuat angka tahun tertua.
2.     Prasasti no. 404b. Sukawana A II, diterbitkan oleh raja Anak Wungsu pada tahun 976 Saka/ 1054 Masehi.
3.     Prasasti no. 624. Sukawana B  diamanatkan oleh raja Jayapangus pada tahun 1103 Saka/ 1181 masehi.
4.     Prasasti no. 637. Sukawana C  tidak memuat nama raja dan angka tahun.
5.     Prasasti no. 802 a. Sukawana D yang diamanatkan oleh raja patih Kebo Parud pada tahun 1222 Saka/ 1300 Masehi.
Prasasti Suakawana belum pernah terbit secara utuh atau menyeluruh, hanya satu kelompok yaitu prasasti no. 001 Sukawana A I diterbitkan oleh R. Goris tahun 1951. Teksnya dimuat dalam buku Prasasti Bali I dan terjemahan dalam bahasa Belanda dimuat dalam Prasasti Bali II.
      a.     Isi pokok prasasti Sukawana A I adalah berkenaan dengan perintah raja kepada     senapati Danda Kumpi Marodaya, Bhiksu Siwakangsita, Bhiksu Siwanirmala, dan Bhiksu Siwapradnya agar membangun pertapaan yang dilengkapi dengan satra atau pesanggrahan di perkebunan di perbukitan Cintamani. Tempat ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai tempat bermalam bagi orang-orang yang bepergian melewati jalur perbukitan Cintamani. Selain itu juga diatur masalah pembagian warisan dan masalah iuran.
     b.     Prasasti Suakawana A II berkenaan dengan permohonan masyarakat Cintamani kepada raja Anak Wungsu agar diijinkan mengganti prasasti pegangan mereka yang terbuat dari lontar karena rusak disalin kembali dalam lempeng tembaga. Dalam prasasti tembaga ini ditambahkan lagi berkait dengan iuran, kewajiban masyarakat Cintamani, pembelian hewan ternak secara mencicil. Selain itu dimuat sapatha/ kutukan kepada yang berani melanggar isi prasasti.
     c.      Prasasti Sukawana B dikeluarkan karena terjadi perselisihan atau ketidaksepahaman penduduk Desa Cintamani dengan para petugas pemungut pajak. Untuk menjaga stabilitas kerajaan yang berkait dengan kesejahteraan masyarakat, perekonomian, pemerintahan, kehidupan beragama maka oleh raja Jayapangus dikeluarkanlah prasasti agar dapat dipakai pedoman dan dipatuhi oleh petugas kerajaan dan masyarakat luas.
     d.     Prasasti Sukawana C hanya satu lempeng memuat beberapa jenis iuran, cukai, pajak, dan uyang semacam itu.
     e.      Prasasti Sukawana D adalah berkenaan dengan penentuan batas-batas wilayah desa Sikawana, batas-batas tersebut sebagaian besar berupa batas alam seperti bukit dan sungai. Nama batas-batas Desa Sikawana antara lain Cakilikan, Les, Tenggeluk, Ligundi, Air Daup, dan Celuk. Dalam prasasti ini diatur masalah pungutan, iuran, dan yang sejenisnya, baik dalam bentuk uang dan barang. Penduduk Desa Sikawana diberikan keleluasaan berdagang sebagai jenis komoditi hasil kebun dan peternakan.
Nama Desa Sukawana merupakan nama yang sudah cukup tua, dalam prasasti Sukawana D (1222 Saka/1300 Masehi) disebut dengan Sikawana, sedangkan dalam prasasti Dausa Pura Bukit Indrakila (983 Saka/1061 Masehi) disebut dengan Sukhawana).
Nilai-niali penting yang termuat dalam prasasti Sukawana adalah adanya substansi kearifan lokal dalam pelestarian lingkungan. Masyarakat desa diharapkan tidak sembarangan mengeksploitasi hutan. Beberapa jenis kayu yang disebut dengan kayu larangan seperti : beringin, bodi, kemiri, kemoning, mundeh, kapulaga, kamukus, jaruju adalah tanaman yang dilindungi, hanya boleh ditebang dalam keadaan darurat atau terpaksa.
Masyarakat desa juga diharapkan cepat tanggap terhadap lingkungan termasuk bagaimana menyikapi sipta atau tanda-tanda alam, sedapat mungkin mereka supaya mencegah secara sekala dan niskala.
Masyarakat desa diharapkan proaktif menjaga keamanan lingkungan, terutama yang disebabkan oleh bromocorah seperti pencuri, perampok, penipu, dan semacam itu, masyarakat dilarang keras berperilaku seperti itu. Selain itu diharapkan senantiasa menciptakan keseimbangan kehidupan lahir dan bathin, hal ini ditunjukan mereka tidak hanya mengurusi masalah pertanian, peternakan, perdagangan dan yang semacam itu akan tetapi mereka harus memperhatikan pertapaan, kahyangan dan tempat-tempat suci lainnya.







BAGAIMANA MEMBUAT LONTAR ?


     Istilah lontar asal mulanya adalah ron-tal, yaitu daun pohon tal. Kini yang dimaksud dengan lontar adalah daun yang sudah berisi tulisan berbagai masalah atau cerita, merupakan catatan.
      Ketika manusia Bali belum mengenal tulisan, maka pelajaran susastra dan pendidikan lainnya disampaikan secara lisan, namun ketika sudah mengenal tulisan (aksara) Bali dicipta, direkalah kasusastraan tersebut dalam ruangnya ental (tal) atau rontal, daun siwalan, berupa lembaran, roncean dan cakepan (jilidan) disebut pustaka.
Lontar ada yang ditulis dalam lempiran(pepesan), dalam bentuk takepan, ada yang diletakkan dalam kotak (keropak). Tidak sedikit pula yang ditulis pada rontal katihan ( daun tal yang masih ada lidinya) disebut embat-embatan.
Dalam bahasa Jawa Kuna lontar disebut tal, dalam kosa kata bahasa Bali disebut dengan ental, dan dalam bahasa Indonesia disebut lontar. Di Bali dewasa ini pohon lontar banyak ditemukan di daerah Jembrana, Singaraja, Karangasem dan sekitarnya. Lontar ini ada tiga jenis yaitu ; ntal taluh, ntal goak, dan ntal kedis.
Ntal taluh memiliki ciri-ciri seratnya halus, daunnya cukup panjang dan lebar, tidak terlalu keras ditulisi/ ditoreh dengan pengutik. Ntal goak memiliki serat agak  kasar, daunnya lebar dan panjang, agak keras dan kenyal jika ditoreh untuk ditulisi. Ental kedis juga memiliki serat halus, tetapi daunnya agak pendek dan kurang lebar dan juga jika ditoreh tidak terlalu keras. Dari jenis-jenis yang dijumpai itu, untuk bahan tulis dipilih jenis ntal taluh. Daun yang dipetik adalah daun yang sudah maikuh sesapi berwarna kekuningan pada ujungnya, siap untuk dipetik
Pada saat menulis lontar diperlukan kemampuan memusatkan perhatian, tidak terpengaruh oleh situasi lingkungan. Pengetahuan tentang bahan yang akan ditulisi (pepesan), apakah baik atau tidak, juga tajam atau tidaknya pengrupak ( pisau tulis) serta bagaimana mengasahnya. Penguasaan terhadap bahasa yang akan disalin, sehingga tidak banyak terjadi kesalahan.
Menulis lontar biasanya dilakukan di atas meja atau dulang, yang tingginya diatur bila duduk di depannya, tepi meja atau dulang seukuran tinggi susu. Duduk tegak lurus menghadap ke depan. Tangan kiri memegang lempiran (pepesan) yang dirangkap 4 sampai dengan 8 lembar, bercokol pada alas tangan di atas meja atau dulang.Tangan kanan memegang pengrupak, sedangkan ibu jari kiri menempel pada pengrupak, ikut bergerak, sehingga akan tampak menulis dengan kedua belah tangan. Media (lempiran/pepesan) digeser dengan jari tangan kiri perlahan-lahan menurut kepentingan. Alat tulis atau pengrupak tidak pindah-pindah. Naskah yang akan ditulisi ditaruh di depan, dengan jarak gampang dan jelas dibaca.
Ketika anda menulis dalam lontar anda harus mempergunakan alas menulis semacam bantalan kecil, agar tangan anda tidak sakit, karena ketika anda menulis akan terjadi tekanan  dan  gesekan dengan tempat menulis, selain itu menulis lontar berbeda dengan menulis di atas kertas yang beralaskan meja,  jika menulis aksara Bali di atas kertas memerlukan alas yang keras dan datar, karena kertas langsung menempel pada alas tempat  menulis, semakin datar alasnya semakin bagus. Namun ketika kita menulis lontar, lontar tidak menempel langsung pada alas namun lontar kita pegang dengan tangan  kiri lalu ditulisi. Jadi  yang bersentuhan langsung dengan alas adalah tangan sang menulis. Sehingga jika tidak diberi alas maka tangan yang bersentuhan langsung dengan alas tersebut akan terasa sakit dan akan mengganggu penulis dalam menyelesaikan tulisannya. Selain itu hal yang perlu diperhatikan ketika menulis lontar alas yang dipakai berupa kasur atau bantal kecil yang lembut sehingga tangan terasa nyaman.
Setelah selesai ditulisi, agar mudah dibaca, maka goresan-goresan itu dihitamkan. Bahan-bahan  yang dipakai adalah buah kemiri, sebab banyak mengandung minyak. Hitamnya pekat, tidak mudah luntur, minyaknya meresap pada goresan lontar serta tidak menimbulkan cendawan. Caranya ; Biji kemiri yang telah dikuliti dibakar, setelah cukup matang apinya dipadamkan. Biji yang sudah matang dibakar  itu digosok-gosokkan pada lontar, tanpa dicampur dengan minyak atau cairan-cairan lain. Minyak kemiri itu keluar dengan sendirinya, merasuk pada goresan-goresan itu, lalu diurut dengan ibu jari tangan. Kemudian dilap beberapa kali hingga bersih. Yang terakhir dibersihkan lagi dengan lap basah  (air campuran asam/cairan lerak) agar benar-benar bersih sampai dengan garis-garis lontar itu. Sebelum disimpan, hendaknya dijemur beberapa kali kurang lebih satu jam, hingga bersih benar
Menulis lontar adalah menulis dalam rasa dan perasaan, senantiasa diperlukan kesabaran dan  kestabilan batin dan nafas yang terkontrol menyatu dengan tangan. Saat menulis tangan bagai menari, sebab pergelangan tangan yang gemulai berputar mengikuti gerak nafas dan keinginan untuk menulis huruf demi huruf.

(Rema) 
Narasumber: Ida I Dewa Gede Catra







MOKO DI KABUPATEN ALOR, NUSA TENGGARA TIMUR

Moko merupakan sebuah benda pusaka yang dimiliki hampir setiap keluarga asli Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Moko adalah hasil budaya prasejarah di Indonesia, yang merupakan suatu tipe lokal dari nekara perunggu di Indonesia. Moko atau “mako” adalah nekara berukuran kecil (Bintarti dalam Gede, 1995). Bentuk moko juga mendekati bentuk tifa, alat musik khas dari Indonesia bagian timur khususnya Maluku dan Papua. Bagian atas yang disebut bidang pukul berbentuk bundar. Semakin ke bawah (bagian tengah atau pinggang) mengecil, kemudian melebar kembali di bagian bawah. Moko memiliki ketinggian rata-rata sekitar 46-60 cm dan diameter 32 cm. Moko memiliki berbagai macam pola hias. Bintarti (dalam Gede, 1995: 73-75) telah membagi pola hias moko menjadi empat yaitu
1.      pola prasejarah,
2.      pola hias candi (Indonesia Hindu),
3.      pola barat (Belanda-Inggris) dan
4.      pola lain (pola baru).
Pola hias prasejarah misalnya berupa pola bintang bersudut delapan, pola hias geometrik, dan kedok muka. Pola sulur, untaian bunga dan daun, kepala kala, wayang, burung garuda dan geometrik merupakan ciri pola hias candi (Indonesia Hindu). Pola hias Barat (Belanda-Inggris) berupa pola gigir keliling, untaian daun anggur dan bunga anggur, muka orang yang digambarkan berkumis, berjenggot, dan hidung mancung. Kemudian ada pula pola dua ekor singa yang berdiri sambil memegang bendera Belanda. Pola yang tergolong pola baru antara lain gambar manusia dan binatang seperti naga, singa, kuda, kerbau, buaya, kijang, ayam dan sebagainya.
Moko mempunyai nama yang berbeda-beda seperti Moko Itikara, Moko Makassaar, Moko Jawa, Moko Habartur, Moko Pung dan sebagainya. Di tiap daerah di Alor moko memiliki nilai yang belum tentu sama. Misalnya di Pantar moko yang bernilai paling tinggi adalah Moko Pung atau Moko Lima Anak Panah sedangkan di tempat lainnya moko Makassar memiliki nilai tertinggi. Hal ini sudah mereka warisi dari generasi sebelumnya. Biasanya moko yang dimiliki keturunan raja akan bernilai lebih tinggi. Gede (1995: 76-78) menjabarkan fungsi moko yaitu sebagai
1.      sarana upacara,
2.      lambang status sosial,
3.      belis (sebutan untuk mas kawin di wilayah Indonesia timur),
4.      alat music,
5.      sebagai benda yang bernilai ekonomis,
6.      moko adalah sebagai lambang perdamaian dari pihak-pihak yang bertikai.

Saat ini penduduk Alor masih menggunakan moko salah satunya sebagai belis. Kendati agama-agama besar seperti Katolik, Kristen dan Islam sudah banyak dianut oleh penduduk, tradisi penyerahan mas kawin berupa moko masih tetap dilakukan. Seiring peningkatan kebutuhan hidup , saat ini ada beberapa pihak yang mengganti belis moko dengan uang tunai. Namun ada juga yang masih tetap mempertahankan moko. 

(Eka Julia)





CANDI PENATIH


Tim Balai Arkeologi Denpasar telah mengadakan 2 kali penelitian di Situs Penatih yang berlokasi di Jl. Trengguli gang IVD Denpasar. Berdasarkan pengamatan terhadap keseluruhan struktur batu padas yang sudah tergali, dapat diketahui bahwa dasar candi dimulai dengan penempatan batu kali dan pasir dan kemudian dipasangkan batu padas secara tegak lurus yang berfungsi sebagai lapik (pitha) candi, di atas lapik candi ini dipasangkan profil bingkai sisi genta ganda (Pidha cala) dan di atasnya terlihat adanya bingkai mistar. Struktur bangunan mempergunakan teknik gosok untuk merekatkan bahan yang satu dengan yang lainnya. Untuk memperkuat struktur agar tidak mengalami pergeseran dibuatkan system kunci yang berupa cekungan sedalam 0,5 – 1 cm pada permukaan 2 batu di bawahnya untuk ditutup oleh sebuah batu di atasnya. Pada sisi barat struktur bangunan memiliki tanah yang sangat keras dan padat, ujung batu padas tidak rata, sehingga dapat diduga merupakan bagian tengah dari sebuah bangunan yang berdenah segi empat.

Dalam penelitian tahap ke-2 yang baru saja berakhir pada 30 April yang lalu, berhasil menemukan struktur batu padas yang diduga kuat sebagai struktur tangga masuk dari sisi timur (foto kiri). Struktur tangga ini terlihat sudah banyak yang terganggu, terutama sekali bagian yang sebelah utara batuannya sudah tidak ada lagi, sehingga belum dapat diketahui lebar tangga yang utara-selatan, sedangkan yang menjorok keluar dari lapik candi sekitar 20 cm. Struktur tangga ini dibuat dengan susunan batu padas yang ukurannya lebih kecil dan dalam bentuk yang pipih dengan ukuran yang beragam. Hal ini mungkin disesuaikan dengan kebutuhan dalam pembuatan undak-undaknya, serta mungkin pula dikarenakan struktur tangga masuk ini memiliki ruang kosong di atasnya, sehingga tidak menerima beban yang berat dari konstruksi yang ada di atasnya.

Perlu diketahui bahwa bagian atas dari batu padas yang dijadikan tangga dihaluskan sedalam 20 cm, sedangkan bagian bawahnya masih kasar tanpa pengerjaan. Dari keadaan ini dapat diduga bahwa permukaan halaman candi pada masa lampau sekitar 20 cm dari permukaan tangga tersebut, sehingga ada perbedaan sekitar 150 cm dengan permukaan tanah sekarang. Artinya wilayah sekitar candi penatih sudah mengalami pengendapan setinggi 150 cm.

Dari tangga masuk ini terlihat struktur sepanjang hampir 21 meter ke arah selatan, jika tangga ini posisinya di tengah-tengah maka seharusnya masih ada lagi struktur sepanjang hampir 21 meter ke arah utara. Dengan demikian dapat dibayangkan berapa besar bangunan candi ini pada masa lampau.

Selain melakukan ekskavasi, dalam penelitian kali ini, tim Balai Arkeologi Denpasar juga melakukan survey. Survey dilakukan di beberapa pura dan di daerah aliran Sungai Bugbug dimana di sekitar sungai tersebut terdapat sumber batu padas yang pernah dieksploitasi sebelumnya. Survey juga dilakukan di Pura Penataran Agung dimana terdapat komponen-komponen bangunan yang berupa menara sudut dan kemuncak bangunan (foto kiri) yang ditemukan di pura ini juga mengindikasikan bahwa dahulunya diloksi ini pernah ada bangunan candi yang dibuat dengan material batu padas.

Tinggalan-tinggalan arkeologi yang sangat menarik juga ditemukan di Pura Dangka ini yaitu beberapa buah lingga-yoni, arca Dewa Ganesa, Arca Dewi Durgha, Kepala Kala, Arca Nandi serta beberapa komponen bangunan.

Hasil penelitian terhadap beberapa candi di Jawa telah berhasil diketahui bahwa di dalam sebuah bangunan candi biasanya arca-arca dewa memiliki kedudukannya yang permanen, disesuaikan dengan fungsinya sebagai penjaga penjuru mata angin untuk menjaga keselamatan dunia. Dalam Pantheon agama Hindu, Dewa utama/tertinggi adalah Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa, sehingga dewa-dewa utama biasanya menduduki ruang utama (main chamber) dari pada sebuah candi.

Namun untuk candi-candi Hindu di Indonesia, telah ditemukan penempatan arca-arca di dalam sebuah candi dengan komposisi terbanyak adalah Durga-Ganesa-Agastya sebagai dewa pendamping dengan ruang utamanya ditempati oleh Dewa Siwa atau perlambang Dewa Siwa lainnya. Komposisi Durga-Ganesa-Agastya ini dapat kita lihat pada Candi Gedong Sanga III, Candi Gedong Sanga Bubrah, Candi Selagriya, Candi Umbul, Candi Sambisari, Candi Roro Jongrang dan Candi Singasari (Edi Sedyawati, 1994).

Formula inilah yang menyebabkan adanya dugaan apabila dahulu di lokasi pura Dangka ini ada bangunan candi, maka ruang utamanya ditempati oleh Dewa Siwa dalam wujud simbul Lingga-Yoni dan arca Dewa Ganesa serta Dewi Durgha berfungsi sebagai dewa pendamping yang ditempatkan sebagai penjaga mata angin. Yang dikuatkan juga dengan adanya Kepala Kala yang biasanya menempati ambang atas pintu masuk candi, sedangkan Arca Nandi pada umumnya ditempatkan pada tangga candi.

    Arca Dewi durgha di Pura Dangka
    







Lingga- Yoni di Pura Dangka