Penelitian Hidro-arkeologi di Petang, Badung, Bali


Penelitian ini memprioritaskan pada kajian keterkaitan tinggalan arkeologi  dengan  tata kelola air yang dilakukan oleh masyarakat di kawasan Kecamatan Petang terutama di dua desa di hulu yaitu Desa Pelaga dan Belok Sidan. Kawasan Petang merupakan kawasan penyanggga Hutan Gunung Mangu sebagai kawasan resapan yang cukup besar dan sampai sekarang vegetasi hutannya masih terpelihara sejalan dengan kepercayaan  masyarakat masa lalu yang masih mentradisi memproteksi kawasan tersebut. Sejumlah bukti aspek budaya  masih banyak ditemukan seperti yang berkaitan dengan  aktivitas  pemujaan. Kearifan lokal dalam kaitan dengan pengelolaan sumber daya air secara bersama melalui  sistem subak dan sistem sekehe (kelompok tradisional). Kesemuanya itu  merupakan sumber daya arkeologi yang perlu dikelola dengan baik (Cultural Resource Management).
Bentangan  lahan yang ada di kawasan Petang merupakan bagian dari ekosistem yang lebih luas dari hubungan manusia dalam siklus kehidupan, pemanfaatan lahan serta  upaya menjaga alam yang berkelanjutan. Kenyataan ini merupakan pengalaman masyarakat sejak dulu. Mengamati perilaku masyarakat dalam mengelola sumber daya alam (bentangan lahan) khususnya pengelolaan sumberdaya air diperlukan berbagai pendekatan. Penelitian ini  cenderung melandasi kajian ini dengan menggunakan model komponen Sistem Sosiokultural yang terdiri dari Super struktur ideologi, bagaimana wujud idea masyarakat dengan pengetahuan sederhana yang dimiliki mampu memanfaatkan alam lingkungan yang berkelanjutan (sustainable) menjaga regulasi hidrologi,  pengelolaan lingkungan binaan,  pelestarian vegetasi dan budaya yang  dilakukan sejak dulu (Sanderson, 2000).
Berdasarkan keterangan dari beberapa sumber prasasti, tanaman yang diatur pola penebangannya antara lain kemiri, bodi, beringin, pohon asam, jeruk, mundu, nangka, enau, mengkudu, pucang, sekar kuning, kapulaga, kamukus, dan lumbang. Upaya ini dilakukan Raja untuk melindungi plasma nutfah. Demikian juga dengan sistem subak sebagai bagian dalam pengelolaan daur hidrologi yang sudah dikenal masyarakat Bali Kuno menerapkan keseragaman dalam pelaksanaan pola tanam, pengaturan pola irigasi yang merupakan bukti pengelolaan lingkungan sosial masyarakat yang adaptif.
Objek yang diteliti  lebih ditekankan pada pengelolaan hidrologi di bentangan alam Petang meliputi sejumlah tinggalan arkeologi yang ada di kawasan ini, pura (tempat suci) yang disucikan masyarakat dalam kaitan dengan kegiatan pengelolaan sumber-sumber air, kearifan peradaban seperti sistem subak dan perangkat kegiatan yang masih mentradisi,  serta mengamati kearifan peradaban dalam pengelolaan lingkungan.
Di dua lokasi penelitian ini morfologinya berupa perbukitan yaitu Puncak Mangu dan Bon. Litologi yang menjadi ciri daerah ini adalah berupa lapisan batuapung, menempati puncak-puncak perbukitan dan lembahnya. Vegetasi berupa hutan lindung dan hutan rakyat dengan berbagai jenis tumbuhan, sehingga daerah ini menjadi pilihan hunian bagi masyarakat. Dari hasil survei di dua lokasi ini berhasil ditemukan beberapa tinggalan budaya masa lalu yang merupakan wujud dari adaptasi manusia terhadap alam dan lingkungannya.
Tinggalan arkeologi yang tersebar di beberapa pura di wilayah Desa Pelaga dan Belok Sidan didominasi oleh tinggalan dari masa Klasik berupa lingga, yoni ataupun lingga-yoni. Temuan dari masa klasik lainnya adalah Arca Perwujudan dan arca binatang.

Deretan Lingga di Pura Taman, Pura Taman Puseh Lawak
Lingga yoni di Pura Puseh Lawak
Arca Perwujudan di Pura Puseh Kahyangan Tiga Desa Pakraman Bon
  Selain itu ada pula tinggalan dari masa prasejarah berupa onggokan batu-batu alam yang juga dipergunakan sebagai media pemujaan hingga sekarang, meja batu (dolmen) dan juga menhir (batu tegak).
Onggokan batu-batu alam di Pura Bukit Penikit
Dolmen dan Menhir di Pura Desa Bale Agung Belok Sidan

Gunung dalam siklus hidrologi adalah daerah tangkapan air, dalam hal ini gunung yang dimaksud adalah Puncak Bon. Di puncak gunung ini terdapat Pura Antap Sai Pucak Bon yang sangat dikeramatkan oleh seluruh masyarakat khususnya penyungsung pura. Masyarakat sekitar tidak berani merusak lingkungan termasuk menebang pohon di sekitar bukit tersebut. Gunung dalam keyakinan masyarakat Hindu, dianggap sebagai lingga-nya dunia (lingga buana). Lingga buana merupakan refleksi dari Tuhan (Siwa) secara nyata bagi masyakarat. Secara filosofis pura dan bangunan suci disebut juga kahyangan, yang merupakan replika atau tiruan stana sejati Tuhan Yang Maha Esa dengan berbagai manifestasi-Nya.
Perilaku di atas dilakukan karena adanya ketergantungan masyarakat terhadap sumber air dan sumber daya alam lainnya untuk keberlangsungan hidup mereka. Adapun usaha-usaha yang dilakukan untuk menjaga keseimbangan alam antara lain dengan dibuatnya terasiring atau pangkedan (nyabuk gunung) untuk memperlambat laju air permukaan sehingga daya serapnya lebih besar. Selain itu pembuatan pangkedan juga mengurangi resiko erosi atau tanah longsor. Namun juga dalam kondisi atau lingkungan yang berbeda, perlakuan mereka terhadap sumber air akan disesuaikan misalnya dengan pembuatan bulakan pada lahan yang sangat miring dan pembuatan kolam pada lahan yang datar.
Perilaku tersebut akan menimbulkan dampak positif terhadap munculnya sumber-sumber air di sekitar daerah penelitian. Hal ini dibuktikan dengan tetap munculnya sumber air di daerah yang lebih rendah, salah satunya di Beji Sudamala. Di tempat ini terdapat dua sumber mata air resapan yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kegiatan sakral dan profan. Pemanfaatan air oleh masyarakat tidak bisa dilepaskan dari upaya masyarakat untuk memuliakan keberadaan air itu sendiri. Hal ini terlihat dari posisi pancuran secara vertikal dimana pancuran dengan posisi yang lebih tinggi dimanfaatkan untuk kegiatan sakral keagamaan, kemudian di pancuran yang posisinya lebih rendah dimanfaatkan untuk kegiatan profan seperti mandi dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Kemudian pancuran selanjutnya dimanfaatkan untuk mengairi ladang dan sawah.Di bagian hulu atau di permukaan tanah yang lebih tinggi dibangun sebuah pelinggih sebagai media pemuliaan air sebagai sumber kehidupan. Hal ini adalah sebuah kearifan religius yang fokus pada keyakinan tentang Ketuhanan dan spiritualitas. Melalui teks teologis, sistem simbol dan aktivitas ritual, bukan saja ranah Parhyangan, tetapi juga ranah palemahan dan pawongan terkait dengan konsep suci dan leteh. Termasuk tanah, sumber daya air dan perilaku masyarakat. Kesucian dianggap pangkal harmoni dan keletehan (kotor) adalah signal disharmoni. Kesucian menguatkan jagadhita dan keletehan mengganggu jagadhita (Windia dan Wiguna, 2013: 73).
Salah satu bentuk nyata kaitan tinggalan arkeologi dengan pemuliaan air itu sendiri diwujudkan dalam sebuah bentuk petirtaan di Beji Pura Penataran Agung Bukian. Dalam hal ini mata air yang muncul dari akifer dan rembesan mengalir ke dalam sebuah fitur kolam dari batu padas/tufa yang ditengah-tengahnya berdiri sebuah lingga. Kolam dan sembilan pancurannya melambangkan yoni dan air yang keluar dari pancuran tersebut melambangkan amerta/ kehidupan.  

Mata air dan Petirthaan Taman Beji Penataran Agung Bukian


Pedoman Penulisan Jurnal Forum Arkeologi

PANDUAN PENULISAN FORUM ARKEOLOGI
BALAI ARKEOLOGI DENPASAR

Cakupan isi jurnal Forum Arkeologi
            Jurnal Forum Arkeologi memuat pemikiran ilmiah, hasil penelitian atau tinjauan/ulasan/pemikiran tentang kearkeologian terbit 3 kali dalam setahun setiap bulan, April, agustus, November.

Standar Umum Penulisan Karya Tulis Ilmiah
  1. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris.
  2. Judul, Abstrak, dan Kata Kunci harus ditulis dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris).
  3. Ditulis dengan menggunakan MS Word pada kertas ukuran A4 (210 mm x 297mm), font Times New Roman ukuran 12, spasi 1.15. Batas atas, batas bawah, tepi kiri, dan tepi kanan masing-masing 3 cm. Jumlah minimal 10 halaman, maksimal 20 halaman isi (tidak termasuk lampiran).
  4. Penyebutan istilah di luar bahasa Indonesia atau Inggris harus ditulis dengan huruf cetak miring (italic).


Struktur Karya Tulis Ilmiah
Naskah Karya Tulis Ilmiah (KTI) tersusun meliputi unsur-unsur sebagai berikut.
  1. Judul
  2. Nama dan Alamat Penulis
  3. Abstrak
  4. Kata Kunci
  5. Pendahuluan (antaralain latar belakang, perumusan masalah, tujuan, teori, dan hipotesis [opsional])
  6. Metode Penelitian (berisi waktu dan tempat, bahan/cara pengumpulan data, metode, analisis data)
  7. Hasil dan Pembahasan (termasuk ilustrasi : gambar/tabel/grafik/foto/diagram dll)
  8. Kesimpulan
  9. Saran (opsional)
  10. Daftar Pustaka
  11. Lampiran (opsional)


Cara Penulisan Judul
  1. Judul bahasa Indonesia diketik dengan huruf kapital tebal (bold) dan mencerminkan inti tulisan, diketik rata tengah (centre).
  2. Judul bahasa Inggris ditulis dengan huruf kapital setiap awal kata, di bold, italic, dan di ketik rata tengah (centre).
  3. Apabila judul ditulis dalam Bahasa Indonesia maka di bawahnya ditulis ulang dalam Bahasa Inggris; begitu juga sebaliknya.


Cara Penulisan Nama dan Alamat
  1. Nama penulis diketik di bawah judul, ditulis lengkap tanpa menyebut gelar, diketik rata tengah (centre) dan di bold. Apabila ditulis oleh dua atau tiga orang, maka  dibelakang nama diberi tanda super script.
  2. Alamat penulis (nama dan alamat instansi tempat bekerja) ditulis lengkap dengan jarak satu spasi di bawah nama penulis. Apabila dua atau tiga orang penulis dengan alamat yang sama, cukup ditulis satu alamat saja.
  3. Alamat Pos-el (Pos elektronik) ditulis di bawah alamat penulis.
  4. Jika alamat lebih dari satu maka harus diberi tanda asterisk (*) dan diikuti alamat sekarang.
  5. Jika penulis terdiri dari lebih dari satu orang maka harus ditambahkan kata penghubung ‘dan’ (bukan lambang ‘&’).
  6. Riwayat naskah: diterima, direvisi dan  disetujui, ditulis sejajar.


Cara Penulisan Abstrak dan Kata Kunci
  1. Kata abstrak ditulis rata tengah (centre), italic dan bold.
  2.  Abstrak ditulis dalam satu paragraph, bukan dalam bentuk matematis, pertanyaan, atau dugaan. Ditulis menerus tanpa acuan, kutipan, singkatan, serta bersifat mandiri dengan huruf  italic. Diketik satu spasi font 11 serta ditulis dalam dua bahasa yaitu bahasa Indonesia maksimal 250 kata dan bahasa Inggris maksimal 150 kata.
  3. Abstrak berisi empat aspek yaitu: tujuan penelitian, metode yang digunakan, hasil penelitian, dan kesimpulan penelitian.
  4. Apabila KTI menggunakan bahasa Indonesia, maka abstrak (abstract) dalam Bahasa Inggris didahulukan dan sebaliknya.
  5. Abstrak dalam Bahasa Indonesia diikuti kata kunci dalam Bahasa Indonesia, sedangkan abstract dalam bahasa Inggris diikuti keywords dalam Bahasa Inggris.
  6. Penulisan abstrak  Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris tidak sejajar dengan narasi naskah, dan diketik, italic.
  7. Kata kunci paling sedikit tiga kata dan paling banyak lima kata, ditulis dengan huruf cetak miring (italic).



Cara Penyajian Tabel
  1.  Judul tabel ditampilkan di bagian atas tabel, rata kiri (bukan center), ditulis menggunakan font Times New Roman ukuran 10.
  2. Tulisan ‘Tabel’ dan ‘nomor’ditulis tebal (bold), sedangkan judul tabel ditulis normal. Gunakan angka Arab (1, 2, 3, dst.) untuk penomoran judul tabel.
  3.  Tabel ditampilkan rata kiri halaman (bukan center).
  4. Jenis dan ukuran font untuk isi tabel dapat menggunakan Times New Roman atau Arial Narrow ukuran 8-11 dengan jarak 1,0.
  5. Pencantuman sumber atau keterangan diletakkan di bawah tabel, rata kiri, menggunakan font Times New Roman ukuran 10.


Cara Penyajian Gambar, Grafik, Foto, atau Diagram
  1. Gambar, grafik, foto, atau diagram ditampilkan di tengah halaman (center).
  2. Keterangan gambar, grafik, foto, atau diagram ditulis di bawah ilustrasi, menggunakan font Times New Roman ukuran 10, ditempatkan di tengah (center).
  3. Tulisan ‘Gambar, Grafik, Foto, atau Diagram’ dan ‘nomor’ditulis tebal (bold), sedangkan isi keterangan ditulis normal.
  4. Gunakan angka Arab (1, 2, 3, dst.) untuk penomoran gambar, grafik, foto, atau diagram.
  5. Pencantuman sumber atau keterangan diletakkan di bawah ilustrasi, rata kiri, menggunakan font Times New Roman ukuran 10.


Cara Pengutipan Sumber
  1. Penunjuk sumber dalam naskah supaya dibuat dengan urutan sebagai berikut: nama pengarang, tahun terbit dan halaman sumber, semuanya ditempatkan dalam tanda kurung (Langsing, 1991: 93).


Cara dan Contoh Penulisan Daftar Pustaka
  • Urutan dalam Daftar Pustaka ditulis berdasarkan alfabetis.
  • Daftar pustaka yang diacu paling sedikit 10 acuan, sebaiknya 80 persen acuan primer dan 20 persen acuan sekunder.
  • Ukuran huruf lebih kecil dari isi naskah. Font 11 Time New Roman.


Contoh:
jurnal
Suantika, I Wayan. 2012. Pengelolaan Sumberdaya Arkeologi. Forum Arkeologi. 25 (3): 185-205.

Buku satu penulis
Ambary, Hasan Muarif. 1998. Menemukan Peradaban Arkeologi dan Islam di Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Buku dua hingga empat penulis
Dahler, Franz dan Julius Chandra. 1991. Asal dan Tujuan Manusia. Yogyakarta: Kanisius.

Buku lebih dari empat penulis
Husein, S.B. dkk. 2011. Indonesia Across Orders - Arus Bawah Sejarah Bangsa (1930-1960). Jakarta: LIPI Press.

Buku tanpa nama pengarang, tetapi ditulis atas nama lembaga
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 2011. Pedoman Akreditasi Majalah Ilmiah. Jakarta: LIPI.

Bunga rampai
Geria, Made. 2012. Penguatan Jatidiri dalam Perspektif Aktualisasi Arkeologi. Dalam Made Sutaba (Ed.). Merajut Kearifan Lokal Membangun Karakter Bangsa: 1-20. Denpasar: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Balai Arkeologi Denpasar .

Prosiding
Suarbhawa, I Gusti Made. 1995. Beberapa Aspek Pelestarian Lingkungan pada Jaman Bali Kuno. Dalam Ambary, Hasan Muarif. Dkk (Ed.). Analisis Sumber Tertulis Masa Klasik : 183-196.  Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Media massa (tanpa nama penulis)
Guinness Catat Borobudur sebagai Situs Arkeologis. 2012. Bali Post, 5 Juli 2013: 22.
Media massa (terdapat nama penulis)
Sutaba, I Made. 2013. Satu Abad Purbakala Indonesia. Berburu Warisan Budaya Membangun Masa Depan. 2013. Bali Express, 17 Juni: 4.

Tulisan bersumber dari internet (tanpa nama penulis)
Lingga Yoni di Pura Puseh Babahan, Bali. 2007. (http://linggabinangkit.wordpress.com
/2007/10/03/arti-lingga/, diakses, 13-08-2011).

Tulisan bersumber dari internet (terdapat nama penulis)
Sumartono, 2004. “Penyelidikan Geokimia Regional Sistematik Lembar Denpasar dan      Mataram Provinsi Bali”, (http://psdg.bgl.esdm.go.id/index.          php?
option =com_  content&view=article&id), diakses 5-10-2013).

Makalah dalam pertemuan ilmiah, kongres, simposium, atau seminar yang belum diterbitkan
Suarbhawa, I Gusti Made. 2012. Penelitian Sumberdaya Budaya di Kawasan Danau Batur untuk Mendukung Geopark. Makalah dalam Evaluasi Penelitian Arkeologi. Solo: Pusat Arkeologi Nasional.

Laporan Penelitian
Geria, I Made. 2007. Survei Tinggalan Arkeologi di Bentangan Alam Kawasan Jatiluwih (Culture Lanskape) Penebel, Tabanan, Bali. Laporan Penelitian, Balai Arkeologi. Denpasar: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Skripsi, tesis, dan disertasi
Astra, I Gde Semadi. 1997. Birokrasi Pemerintahan Bali Kuno Abad XII-XIII : Sebuah Kajian Epigrafis. Desertasi , Ilmu Sastra. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.






PENYERAHAN HASIL PENELITIAN PRASASTI SUKAWANA, KINTAMANI, BANGLI

Awal tahun 2014, Balai Arkeologi Denpasar melaksanakan sebuah kegiatan penting yakni penyerahan hasil penelitian Prasasti Sukawana yang bertempat di Pura Bale Agung Desa Sukawana, Kintamani pada hari Sabtu 11 Januari 2014. Hasil penelitian diserahkan secara langsung oleh Kepala Balai Arkeologi Denpasar, Drs. I Made Geria, M.Si, kepada Bupati Bangli, I Made Gianyar dan diteruskan kepada Jero Bendesa Pakraman Sukawana. Penyerahan laporan penelitian tersebut disaksikan pula oleh Dr. I Wayan Koster (anggota DPR RI), Wakil Bupati Bangli, SKPD Kabupaten Bangli, camat, perwakilan Desa Pakraman Kintamani dan Tejakula serta ribuan masyarakat Desa Sukawana.
Pada kesempatan itu nampak antusiasme masyarakat Desa Sukawana terlibat langsung dalam pelestarian warisan budaya mereka demikian pula para Pejabat Daerah. Pemerintah Daerah berjanji akan melakukan sinergi dengan Balai Arkeologi Denpasar dalam kegiatan-kegiatan penelitian selanjutnya.
Ide melakukan penelitian prasasti yang disimpan di Pura Bale Agung Sukawana muncul sekitar Juli 2012 pada saat Balai Arkeologi Denpasar melakukan penelitian sumberdaya arkeologi di kawasan Kintamani sebagai pendukung geopark. Penelitian prasasti dapat dilaksanakan pada tanggal 29-30 Oktober 2012 oleh tim terdiri atas I Gusti Made Suarbhawa, I Nyoman Sunarya, I Wayan Sumerata, Luh Suwita Utami dapat dilaksanakan atas bantuan berbagai pihak seperti Bapak I Made Jasa (mantan Perbekel Sukawana), Mangku Sabaraka, Jro Kabayan, Jro Bahu dan para Dulu serta masyarakat Sukawana.
Prasasti Sukawana terdiri atas 21 lempeng tembaga, yang dipilah menjadi lima kelompok yaitu :
1.     Prasasti no. 001. Sukawana A I, terbit tahun 804 Saka/882 Masehi, tanpa nama raja, merupakan prasasti Bali Kuno yang memuat angka tahun tertua.
2.     Prasasti no. 404b. Sukawana A II, diterbitkan oleh raja Anak Wungsu pada tahun 976 Saka/ 1054 Masehi.
3.     Prasasti no. 624. Sukawana B  diamanatkan oleh raja Jayapangus pada tahun 1103 Saka/ 1181 masehi.
4.     Prasasti no. 637. Sukawana C  tidak memuat nama raja dan angka tahun.
5.     Prasasti no. 802 a. Sukawana D yang diamanatkan oleh raja patih Kebo Parud pada tahun 1222 Saka/ 1300 Masehi.
Prasasti Suakawana belum pernah terbit secara utuh atau menyeluruh, hanya satu kelompok yaitu prasasti no. 001 Sukawana A I diterbitkan oleh R. Goris tahun 1951. Teksnya dimuat dalam buku Prasasti Bali I dan terjemahan dalam bahasa Belanda dimuat dalam Prasasti Bali II.
      a.     Isi pokok prasasti Sukawana A I adalah berkenaan dengan perintah raja kepada     senapati Danda Kumpi Marodaya, Bhiksu Siwakangsita, Bhiksu Siwanirmala, dan Bhiksu Siwapradnya agar membangun pertapaan yang dilengkapi dengan satra atau pesanggrahan di perkebunan di perbukitan Cintamani. Tempat ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai tempat bermalam bagi orang-orang yang bepergian melewati jalur perbukitan Cintamani. Selain itu juga diatur masalah pembagian warisan dan masalah iuran.
     b.     Prasasti Suakawana A II berkenaan dengan permohonan masyarakat Cintamani kepada raja Anak Wungsu agar diijinkan mengganti prasasti pegangan mereka yang terbuat dari lontar karena rusak disalin kembali dalam lempeng tembaga. Dalam prasasti tembaga ini ditambahkan lagi berkait dengan iuran, kewajiban masyarakat Cintamani, pembelian hewan ternak secara mencicil. Selain itu dimuat sapatha/ kutukan kepada yang berani melanggar isi prasasti.
     c.      Prasasti Sukawana B dikeluarkan karena terjadi perselisihan atau ketidaksepahaman penduduk Desa Cintamani dengan para petugas pemungut pajak. Untuk menjaga stabilitas kerajaan yang berkait dengan kesejahteraan masyarakat, perekonomian, pemerintahan, kehidupan beragama maka oleh raja Jayapangus dikeluarkanlah prasasti agar dapat dipakai pedoman dan dipatuhi oleh petugas kerajaan dan masyarakat luas.
     d.     Prasasti Sukawana C hanya satu lempeng memuat beberapa jenis iuran, cukai, pajak, dan uyang semacam itu.
     e.      Prasasti Sukawana D adalah berkenaan dengan penentuan batas-batas wilayah desa Sikawana, batas-batas tersebut sebagaian besar berupa batas alam seperti bukit dan sungai. Nama batas-batas Desa Sikawana antara lain Cakilikan, Les, Tenggeluk, Ligundi, Air Daup, dan Celuk. Dalam prasasti ini diatur masalah pungutan, iuran, dan yang sejenisnya, baik dalam bentuk uang dan barang. Penduduk Desa Sikawana diberikan keleluasaan berdagang sebagai jenis komoditi hasil kebun dan peternakan.
Nama Desa Sukawana merupakan nama yang sudah cukup tua, dalam prasasti Sukawana D (1222 Saka/1300 Masehi) disebut dengan Sikawana, sedangkan dalam prasasti Dausa Pura Bukit Indrakila (983 Saka/1061 Masehi) disebut dengan Sukhawana).
Nilai-niali penting yang termuat dalam prasasti Sukawana adalah adanya substansi kearifan lokal dalam pelestarian lingkungan. Masyarakat desa diharapkan tidak sembarangan mengeksploitasi hutan. Beberapa jenis kayu yang disebut dengan kayu larangan seperti : beringin, bodi, kemiri, kemoning, mundeh, kapulaga, kamukus, jaruju adalah tanaman yang dilindungi, hanya boleh ditebang dalam keadaan darurat atau terpaksa.
Masyarakat desa juga diharapkan cepat tanggap terhadap lingkungan termasuk bagaimana menyikapi sipta atau tanda-tanda alam, sedapat mungkin mereka supaya mencegah secara sekala dan niskala.
Masyarakat desa diharapkan proaktif menjaga keamanan lingkungan, terutama yang disebabkan oleh bromocorah seperti pencuri, perampok, penipu, dan semacam itu, masyarakat dilarang keras berperilaku seperti itu. Selain itu diharapkan senantiasa menciptakan keseimbangan kehidupan lahir dan bathin, hal ini ditunjukan mereka tidak hanya mengurusi masalah pertanian, peternakan, perdagangan dan yang semacam itu akan tetapi mereka harus memperhatikan pertapaan, kahyangan dan tempat-tempat suci lainnya.







BAGAIMANA MEMBUAT LONTAR ?


     Istilah lontar asal mulanya adalah ron-tal, yaitu daun pohon tal. Kini yang dimaksud dengan lontar adalah daun yang sudah berisi tulisan berbagai masalah atau cerita, merupakan catatan.
      Ketika manusia Bali belum mengenal tulisan, maka pelajaran susastra dan pendidikan lainnya disampaikan secara lisan, namun ketika sudah mengenal tulisan (aksara) Bali dicipta, direkalah kasusastraan tersebut dalam ruangnya ental (tal) atau rontal, daun siwalan, berupa lembaran, roncean dan cakepan (jilidan) disebut pustaka.
Lontar ada yang ditulis dalam lempiran(pepesan), dalam bentuk takepan, ada yang diletakkan dalam kotak (keropak). Tidak sedikit pula yang ditulis pada rontal katihan ( daun tal yang masih ada lidinya) disebut embat-embatan.
Dalam bahasa Jawa Kuna lontar disebut tal, dalam kosa kata bahasa Bali disebut dengan ental, dan dalam bahasa Indonesia disebut lontar. Di Bali dewasa ini pohon lontar banyak ditemukan di daerah Jembrana, Singaraja, Karangasem dan sekitarnya. Lontar ini ada tiga jenis yaitu ; ntal taluh, ntal goak, dan ntal kedis.
Ntal taluh memiliki ciri-ciri seratnya halus, daunnya cukup panjang dan lebar, tidak terlalu keras ditulisi/ ditoreh dengan pengutik. Ntal goak memiliki serat agak  kasar, daunnya lebar dan panjang, agak keras dan kenyal jika ditoreh untuk ditulisi. Ental kedis juga memiliki serat halus, tetapi daunnya agak pendek dan kurang lebar dan juga jika ditoreh tidak terlalu keras. Dari jenis-jenis yang dijumpai itu, untuk bahan tulis dipilih jenis ntal taluh. Daun yang dipetik adalah daun yang sudah maikuh sesapi berwarna kekuningan pada ujungnya, siap untuk dipetik
Pada saat menulis lontar diperlukan kemampuan memusatkan perhatian, tidak terpengaruh oleh situasi lingkungan. Pengetahuan tentang bahan yang akan ditulisi (pepesan), apakah baik atau tidak, juga tajam atau tidaknya pengrupak ( pisau tulis) serta bagaimana mengasahnya. Penguasaan terhadap bahasa yang akan disalin, sehingga tidak banyak terjadi kesalahan.
Menulis lontar biasanya dilakukan di atas meja atau dulang, yang tingginya diatur bila duduk di depannya, tepi meja atau dulang seukuran tinggi susu. Duduk tegak lurus menghadap ke depan. Tangan kiri memegang lempiran (pepesan) yang dirangkap 4 sampai dengan 8 lembar, bercokol pada alas tangan di atas meja atau dulang.Tangan kanan memegang pengrupak, sedangkan ibu jari kiri menempel pada pengrupak, ikut bergerak, sehingga akan tampak menulis dengan kedua belah tangan. Media (lempiran/pepesan) digeser dengan jari tangan kiri perlahan-lahan menurut kepentingan. Alat tulis atau pengrupak tidak pindah-pindah. Naskah yang akan ditulisi ditaruh di depan, dengan jarak gampang dan jelas dibaca.
Ketika anda menulis dalam lontar anda harus mempergunakan alas menulis semacam bantalan kecil, agar tangan anda tidak sakit, karena ketika anda menulis akan terjadi tekanan  dan  gesekan dengan tempat menulis, selain itu menulis lontar berbeda dengan menulis di atas kertas yang beralaskan meja,  jika menulis aksara Bali di atas kertas memerlukan alas yang keras dan datar, karena kertas langsung menempel pada alas tempat  menulis, semakin datar alasnya semakin bagus. Namun ketika kita menulis lontar, lontar tidak menempel langsung pada alas namun lontar kita pegang dengan tangan  kiri lalu ditulisi. Jadi  yang bersentuhan langsung dengan alas adalah tangan sang menulis. Sehingga jika tidak diberi alas maka tangan yang bersentuhan langsung dengan alas tersebut akan terasa sakit dan akan mengganggu penulis dalam menyelesaikan tulisannya. Selain itu hal yang perlu diperhatikan ketika menulis lontar alas yang dipakai berupa kasur atau bantal kecil yang lembut sehingga tangan terasa nyaman.
Setelah selesai ditulisi, agar mudah dibaca, maka goresan-goresan itu dihitamkan. Bahan-bahan  yang dipakai adalah buah kemiri, sebab banyak mengandung minyak. Hitamnya pekat, tidak mudah luntur, minyaknya meresap pada goresan lontar serta tidak menimbulkan cendawan. Caranya ; Biji kemiri yang telah dikuliti dibakar, setelah cukup matang apinya dipadamkan. Biji yang sudah matang dibakar  itu digosok-gosokkan pada lontar, tanpa dicampur dengan minyak atau cairan-cairan lain. Minyak kemiri itu keluar dengan sendirinya, merasuk pada goresan-goresan itu, lalu diurut dengan ibu jari tangan. Kemudian dilap beberapa kali hingga bersih. Yang terakhir dibersihkan lagi dengan lap basah  (air campuran asam/cairan lerak) agar benar-benar bersih sampai dengan garis-garis lontar itu. Sebelum disimpan, hendaknya dijemur beberapa kali kurang lebih satu jam, hingga bersih benar
Menulis lontar adalah menulis dalam rasa dan perasaan, senantiasa diperlukan kesabaran dan  kestabilan batin dan nafas yang terkontrol menyatu dengan tangan. Saat menulis tangan bagai menari, sebab pergelangan tangan yang gemulai berputar mengikuti gerak nafas dan keinginan untuk menulis huruf demi huruf.

(Rema) 
Narasumber: Ida I Dewa Gede Catra